Gambaran Kerja Puskesmas

Standard

Kegiatan di Puskesmas nampaknya harus dijabarkan dulu agar ada gambaran tentang masalah ini.

Untuk melihat kegiatan puskesmas kita harus sedikit melihat pada pasal-pasal di Kepmenkes 128/2004. Sebenernya sudah jelas mana yang merupakan fungsi puskesmas di sana. Bahasa dewanya disana disebutkan bahwa fungsi puskesmas adalah :

  1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
  2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat
  3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Namun pada saat menyusun persyaratan ISO 9001:2000 salah satunya adalah menyusun manual mutu, yang lebih menggambarkan apasaja gaweannya Puskesmas kami merinci kegiatan menjadi 3 jenis :

  1. Kegiatan Manajemen
  2. Kegiatan Pelayanan Kesehatan
  3. Kegiatan Pelaksanaan Program

Seperti pada posting sebelum ini saya menjelaskan bahwa kegiatan manajemen terdiri dari POAC. Pelayanan kesehatan dan pelaksanaan program-program sebenarnya ya Promotif Preventif Kuratif Rehabilitatif dengan penekanan masing-masing pada unsur-unsurnya dan tergantung dari jenis programnya.

Kegiatan Manajemen dibagi menjadi : Manajemen Personalia (Man), ini kerjaannya TU banget, meliputi semua urusan kepegawaian sampai dengan pengembangan kemampuan-ketrampilannya (sekolah, kursus, seminar dan pelatihan) dan peningkatan karirnya (kenaikan pangkat, dll). Manajemen Keuangan (Money), dilakukan oleh bendahara, secara struktural pengendaliannya ada di bawah TU, meliputi semua masalah keuangan PKM. Manajemen Sarana dan Prasarana (Material), sekarang lebih dikenal dengan Obat dan Perbekalan. Yg terakhir Manajemen Pengendalian Dokumen (Method) meskipun dalam pengendalian dokumen ISO juga lebih banyak lagi yang diurus. Organizing-Actuating-Controling dilaksanakan simultan dalam bentuk jadwal harian & bulanan diawasi dengan monitoring dan evaluasi sekali setahun. Bila pembagian tugasnya besar misalnya siapa yg pegang program promosi kesehatan, itu diadakan di Tinjauan Manajemen (1 tahun sekali).

Kegiatan Pelayanan Kesehatan adalah keseharian Puskesmas, kegiatan antara lain : pelayanan di Loket, Rawat Jalan (BP, Poli Gigi dan Poli KIA), Rawat Darurat (UGD dan PONED), Rawat Inap, Laboratorium, Poli Konseling, Apotek dan Rujukan Ambulance.

Kegiatan Pelaksanaan Program, terdiri dari : Promosi Kesehatan, Penyehatan Lingkungan, Kesehatan Keluarga, Peningkatan Gizi Masyarakat dan P2M ditambah program-program inovatif seperti UKS, UKGM, Perkesmas, Keswa, Kes Indera, Kes Usila dan Batra.

Di Puskesmas, tenaga fungsional yang ada antara lain adalah : Dokter, Dokter Gigi, Bidan, Perawat, Perawat Gigi, Sanitarian, Nutrisionis, Asisten Apoteker dan Laboran (itu juga yang lengkap jarang sekali). Tenaga lain yang asalnya dari umum adalah : tata usaha, pembantu rawat, pembantu bidan, cleaning service, satpam, staf umum. Dulu ada yang dinamakan juru. Ini adalah pegawai dengan pengetahuan umum yg dilatih program tertentu, misalnya : juru kusta, juru imunisasi (jurim).

Permasalahan

Teman saya Pak Sjahrir mengatakan :

Dokter menjadi Ka Puskesmas karena penguasaan tindakan pelayanan. Penyehatan masyarakat dan lingkungan yang punya disiplin ilmu.
Pemisahan tugas tidak dilakukan berdasarkan masalah yang ada untuk lingkup pengambilan keputusan di tiap tahap/level manajemen.

Proses perencanaan misalnya, hanya copy dan paste dari apa yang terdahulu. Tidak ada pendekatan rasional. Yang ada pendekatan berdasarkan daftar kebutuhan untuk mendapat anggaran….

Saya setuju dengan pendapat beliau tentang : Dokter menjadi Ka PKM karena penguasaan tindakan pelayanan. Ya, tapi tidak hanya itu. Dokter, Dokter Gigi dan SKM sama dibekalinya ilmu kesehatan masyarakat. Sehingga perencanaan kesehatan sampai dengan evaluasi masalah-masalah kesehatan 3 jenis tenaga ini mampu merencanakan dan melaksanakan. Sedangkan kegiatan penyehatan masyarakat dan lingkungan adalah kegiatan terpadu. Sehingga tidak bisa terpisah dari peran dokter bila ia ditunjuk sebagai kepala puskesmas.

Pemisahan tugas (pembagian tugas?) sebenarnya sudah dilakukan berdasarkan masalah, bila itu menyangkut pelayanan sehari-hari. Misalnya di BP, dokter dan perawat; di poli KIA, bidan (+dokter); di poli Gigi (drg. + Perawat Gigi) dst. Tapi bila yang dibicarakan adalah peningkatan kemandirian masyarakat, maka program lebur jadi satu.
Masalah TB Paru, misalnya, akan melibatkan bagaimana promokes akan menerapkan advokasi, penyuluhan, pemberdayaan; bagaimana kesling melihat lingkungannya berpengaruh atau tidak; perkesmas melaksanakan pendidikan kesehatan kepada keluarga-keluarganya ttg masalahnya, bagaimana P2M mulai dari pemantauan imunisasi BCG sampai ke program P2TB-nya melaksanakan DOTS, UKS harus bisa meningkatkan pengetahuan murid-muridnya dst dst.

Yang demikian itu disebut integrasi program-program puskesmas karena diharuskan menganut azas keterpaduan.

Demikian pula pada saat perencanaan, azas keterpaduan pun menjadi salah satu dasar penyusunan. Bahwa kemudian ada yang kupipas ini tentu saja harus dilihat individunya dan beban tugasnya. Pendekatan rasional sudah cukup banyak dan sudah banyak provinsi yang mengembangkan sendiri-sendiri bagaimana membuat pendekatan rasional. Misalnya ada yang namanya Pendekatan PROSFEK (evidence based) ini nasional jadi mestinya puskesmas mana aja kalo provinsinya mengembangkan pasti kebagian minimal sosialisasi. Adalagi yang disebut sebagai Lokakarya A dan B ini juga evidence based; di KIA ada DTPS, kemudian ada ISO. Bahkan sekarang sampai Balanced Score Card sudah akan dijadikan pola manajemen di Puskesmas. Tapi tentu saja perlu waktu untuk benar-benar menjadi matang.

Diperjelas

 

Inti masalahnya sebenarnya adalah siapakah komandannya. Ini yg oleh cakmoki digarisbawahi pada pekerjaan fungsionalnya di lapangan, yang oleh Pak Sjahrir karena kemampuan penanganan medisnya sehingga pilihan mereka jatuh pada dokter.

Ada beberapa cerita tentang kegagalan penerapan kebijakan ini, banyak cerita tentang perseteruan gara-gara kebijakan ini dan sedikit cerita keberhasilan juga karena kebijakan ini ..

Mungkin ada baiknya kita melihat skalanya lebih luas, barangkali yang gagal karena belum ada persiapan sebelumnya, misalnya jumlah tenaga, sarana dan anggaran yang tidak memadai sehingga penggantian manajemen berujung kegagalan, atau mungkin betul bahwa manajer dilatih tapi pemimpin itu dilahirkan jadi memang udah dari sononya .. atau gaya kepala dinas saya, kepemimpinan itu intinya komunikasi, komunikasi intinya informasi, informasi intinya data, so siapa yang menguasai data akan jadi pemimpin .. ??

Mari kita diskusikan, mungkin dengan tambahan diatas akan jadi lebih berkembang atau malah tambah bingung hehehe .. 

About these ads

25 thoughts on “Gambaran Kerja Puskesmas

  1. Pinti

    Ikut2an ah
    Yach………..Memang betul apa yang tersurat dalam komentar. mungkin ada beberapa Ka PKM. yang tidak dari pendidikan Fk. sering kali di ragukan dalam hal kepemimpinan dan Manajemen. kita harus sadar SKM mungkin punya latal belakang pendidikan lain dan membunyai banyak pengalaman dan strategi yg lebih matang.
    Sedangkan kegiatan puskesmas kegiatan terpadu. tidak bisa terpisah terpisah dari programi puskesmas.atau di kotak2. Pemisahan tugas (pembagian tugas?)dilakukan bukan untuk berdiri sendiri, Misalnya kerajaan BP, dokter dan perawat; kerajaan poli KIA, bidan (+dokter); kerajaan poli Gigi (drg. + Perawat Gigi) dst.
    Memang betul bila yang dibicarakan adalah peningkatan kemandirian masyarakat, maka program lebur jadi satu.
    Bingung hehehe…..ngak mungkin kali bagi orang2 yang legowo dan sumeleh.
    cukup dengan memahami TUPOKSI….Diskusi Pentiiiiing………

  2. draguscn

    Iya bu (eh betul kan ibu .. belum kenalan soale) .. emang mbingungi apalagi kalo sudah urusannya mesti bersitegang dengan teman-teman baik sesama medis maupun dengan teman-teman non medis padahal masalah yang lebih penting masih cukup banyak untuk diutamakan.
    sperti orang ngeributin shalat shubuh pake kunut apa ngga, yang ngga shalat shubuh malah dibiarin moloor .. hehehe OOT…

  3. Pinti

    Untuk draguscn
    Belum kenalan? emang perlu.?
    yang terpenting dapat tukar pengalaman dan ilmu khan………..
    bisa2 kepincut atau bahkan kecut kalau kenal….. he.he…he..
    bersitegang dengan teman-teman baik sesama medis maupun dengan teman-teman non medis?……..soal pembagian honor kalik…………….di tambah soal kursi kekuasaan. kalau soal program kayaknya good bay my love……….. betul khan……cek…cek….

  4. draguscn

    Iya .. saya memang layak dipecut
    berani-beraninya merengut-rengut ..
    meminta diri untuk disebut ..
    biar saja jangan disahut

    pembagian honor dan kekuasaan
    ngga ada siapa yang akan dapatkan
    selain horor dan rebut-rebutan
    paling berakhir dengan kekecewaan ..

    [idih banget yaaa.. :D ]

  5. Kalo saya bisa memberi penyoalan, mari kita lihat salah satu laporan LB1 yang terdiri dari sekian banyak penyakit pada kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas.
    Nah… melihat itu, untuk mengatasi penyakit yang ada dan tingkat kunjungan :
    - Apa program Farmasis untuk memproyeksikan kebutuhan obat dan mengawal penggunaannya ??
    - Manakah penyakit-penyakit yang bisa dirancang programnya oleh SKM agar penyakit itu dapat ditekan ? berapakah prediksi kemampuan program itu untuk menghadapi target penurunan yang direncanakan ??
    -Apakah kesiapan2 tindakan medik yang harus dilakukan dokter agar pasien lebih cepat pelayanannya???
    -Apakah standar perawatan yang harus disiapkan kalangan Perawatan agar pelayanan itu lebih siap dan … dan…
    -Apa kata Kapuskesmas untuk itu ??
    Mari mengambil masing-masing dari masalah kesehatan/kesakitan yang diderita rakyat (saya sengaja tidak memakai “diderita masyarakat” supaya tidak kepeleset makna).
    Pak Jojok… mana LB1 anda. simpan dulu BL lainnya.
    Mungkin dari sisi dapat dilihat bahwa begitu lama LB1 tetap disimpan di laci puskesmas, atau hanya untuk dikirim ke Jakarta.
    BEGITUKAH masalah kita ????

  6. Hehehe .. semangat betul pak Sjahrir kali ini ..
    Karena itu tugas seorang dokter di PKM juga tetap ada unsur manajemen-nya ..
    Hanya saja untuk yang ready to fly .. misalnya barangkali ka pkm yang SKM tadi sudah siap dengan program-program maka ia bertugas menjaga :
    1. Masalah POAC
    2. Unsur Input (Man, Money, Material, Methods)
    Sedangkan dokter tetap dengan teknis. Bukan hanya teknis medis akan tetapi teknis program juga. Jadi menjadi dokter puskesmas yang baik bukannya tidak bisa dengan Kesehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan. Tapi harusnya justru makin jago karena integral dengan angka kesakitan yang nyata ditangani.
    Mengingat kerjaan manajemen yang POAC dan M4 itu dianggap ringan maka ditugastambahkan kepada dokter. Shingga ia jadi ka pkm. Apalagi kalo dokternya di PKM banyak.

  7. sibermedik

    Wah..ck..ck..thanks info nya sangat berguna bagi calon2 dokter..

    ternyata bener2 PUSKESMAS (PUSing,KESel,MASuk angin) ya kerjanya.

  8. Hehehe .. iya .. orang-orang yang kayak “teroris”-2 itu bikin ide saya memperkenalkan puskesmas yang sebenarnya jadi tertahan-tahan ..
    Buat yang senang tentu saja kerjaan di PKM bisa dinikmati ..

  9. Salam Kenal dulu sebelumnya
    Saya Adittya, pengajar dan sesekali ikut research di FKM UI.
    Punya idealisme untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
    Ada projek kecil saya adalah mengembangkan SIMPUS freeware. Web base (php mysql), transactional dan data rekapan untuk sp2tp. krn keterbatasan waktu dan resource lainnya, saya memohon bantuannya untuk memperkaya SIMPUS ini.
    Selama ini hanya merujuk pada loket-pendaftaran-poli umum-gigi-kia,imunisasi-apotek (logistik sederhana)-data rekapan dlm gedung dan luar gedung.
    Untuk poli KIA saya tertarik dengan modul yang anda buat, jika boleh saya ingin melihat system model atau busines model dari pengembangan modul KIA anda.
    Insyaallah, jika lancar setelah lebaran saya ingin share dengan kawan-kawan seperjuangan. Terimakasih untuk perhatiannya.

  10. mrmazter

    Kalo mnrt q yg prl di cetak tebal adlh kwalitas etos krj para PNS yg trhrmt (trutama) yg ngaku dah senior. Layaknya pengangguran saja mrk 3D :datang, duduk, diam nunggu jam biar lbh pnts bwat plg. Jam 11, yah ngopi dulu, tiduran, ngrumpi, smpe ke warung bwat ngisi wkt luang (tp g smuanya loch)
    Bkn krg tenaga krj, tp kurang tenaga

    • :-) titik berat yang bagus .. di puskesmas saya kalo yang seperti itu udah ngga ada. Kalaupun ada, saya ngga akan menganggap karena dia PNS senior. Menurut saya itu personal sekali terhadap masing-masing orang. Saya lihat beberapa senior di puskesmas ini malah ngalah-ngalahin yang muda-muda .. meski memang ada juga yang “kurang tenaga” ..
      masalah nya ngga disitu .. kekurangan tenaga kerja bisa menyebabkan terjadinya overload beban kerja dan bila kita berhadapan terus setiap harinya maka akan mudah sekali terjadi penyimpangan disiplin.
      Attitude memang hal yang sulit diobati, tapi setidaknya kita harus bikin standar minimal inputnya masuk dulu, baru mengharapkan proses yang benar ‘mungkin’ berjalan.
      Bener ngga?

  11. achmad fase taramendo

    kalau jumlah standar tenaga kesehatan gigi yang sesuai peraturan ada gak???
    misalnya di suatu puskemas harus ada 1 dokter gigi dan satu perawat gigi,, atau harus ada 1 dokter dan 2 perawat gigi..

  12. Sistem ISOnya sudah ada ya Pak ? ayo dong …
    Mas…. itu FILE DOWNLOADnya (di BOX) sediakan juga versi office yang lebih rendah biar lebih banyak yang bisa tarik… seperti saya ini. hehe
    Thank’s
    Sjahrir Hannanu

  13. wulan

    hmm..bisa dua tahun bahasan ini..2008 -2010..mungkin akan berlanjut lagi..
    Yang seharusnya sih..siapapun kapusk..ya tdk kerja sendirian…
    apalagi kalo udah ISO..kan ada Tim Manajemen Mutu,
    tiap org punya kelebihan & kekurangan..kalo kerjasama & saling menghargai lebih siip

    • dwik_geg

      iya betul, tiap orang punya kelebihan n kekurangan.sapapun ga bs kerja sendiri n merasa diri paling hebat karena semua bth adanya kerja sama yg baik dalam tim.
      mdha2an mereka bs ngerti n bs berbenah diri mulai sekarang!
      ya nggak?

    • moga-moga maksudnya bukan ke puskesmas saya ya .. soalnya disini ngga ada tuh yang merasa hebat. Kami bekerja karena ditugasi sesuai tupoksi. Nampaknya masih relevan pokok bahasan ini mba Wulan .. jadi masih dibahas terus.

  14. Saya blm terlalu paham tentang apa yg dibahas, mungQn saya yg kurang mampu menangkap inti permasalahan ini.
    Kalo tenaga KesMas (SKM) ada ga’ andilnya di PKM ?, krn yg sy liat dlm tulisan abang bahwa tenaga fungsional di PKM adalah ; dokter, Dokter Gigi, Bidan, Perawat, Perawat Gigi, Sanitarian, Nutrisionis, Asisten Apoteker dan Laboran.
    trus Tenaga KesMas (SKM) … ?

    bagaimana dgn Kepmenkes 128/2004 … ?
    “…..yg menjadi kepala Puskesmas adalah Sarjana Kesehatan…..”
    apa SKM bukan termasuk Sarjana Kesehatan…?, sehingga tdk termasuk dalam daftar tenaga funsional ?, apa lagi sebagai Ka PKM . . . ?

    bagaimana dgn Unit PKM (Promosi Kesehatan Masyarakat) yg ada di Puskesmas ?
    bagaimana dgn Bag. Programing (Manajemen Puskesmas) … ?
    apakah tenaga fungsional yg anda tulis di atas punya kapabilitas dlm bidang ini…?
    bukankah semua yg tertera dlm tulisan anda tsb meilki background sendiri2…?
    misalnya ;
    1. Dokter : individual kurative, pengobatan …
    2. dr.gigi : jg demikian, mengobati sakit gigi (bhs kasarx kan gt…?)
    3. Perawat : merawat pasien
    4. dst….
    trus yg memanage siapa ?,…

    “RANGKAP JABATAN”
    apakah itu solusinya…?, kalo menurut saya, itu bukalah solusi, kan ttp sebuah kemunduran yg sangat, kurang profesional, dll …
    ga’ kan maju2 deh…

    • Salam kenal, mas Afif ..

      Asumsi saya anda tenaga SKM ya ? .. Memang post ini tadinya menjawab permasalahan yang dikemukakan di post lain, saya juga sudah lupa yang mana, karena ini posting lama.

      Oya mohon post ini tidak dianggap sebagai provokasi kepada SKM. Seandainya teman-teman SKM bisa memahami kondisi real di daerah mungkin post seperti yang saya tulis ini tidak akan selalu mendapat komentar kritis seperti ini.

      Agar ada gambaran, mas Afif, di Puskesmas2 yang ada di Probolinggo ini bahkan belum semua ada dokter, dokter gigi. Jadi komponen pelayanan saja belum terlaksana sesuai standar seperti yang bisa kita harapkan. Jadi kalo mau menepati Sarjana Kesehatan seperti 128/2004 itu ya .. adanya cuma dokter dan dokter gigi. Kemana SKMnya? Ya adanya cuma di dinkes. Itu aja belum cukup. Karena masing2 kabid belum memiliki tenaga SKM sesuai kompetensi. Oya .. saya jadi ingat waktu PTT di Kalsel dulu .. waktu itu puskesmas kami diundang untuk membuat Kepmenkes 128/2004 itu .. salah satu dari 50 puskesmas se Indonesia. Usulan sarjana kesehatan dengan memasukkan semua sarjana itu rekan-rekan dokter puskesmas lho yang mendukung .. jadi anda salah besar kalo mengira kami ngga rela dengan keadaan itu .. dan saya adalah orang yang tahu betul apa tupoksi saya .. :D

      Bedanya adalah pemerintah Indonesia ini melihat kepentingan mengisi pos-pos di daerah2 terpencil .. jadi materi di kedokteran komunitas tetap ada bobot manajemennya .. Apakah anda merasa lebih kompeten mas Afif? Saya yakin sebagian besar SKM akan berpendapat demikian, dan kami percaya itu. Masalahnya adalah permasalahan puskesmas tidak seperti di buku pelajaran. Bahkan beberapa teman2 SKM yang sudah turun lapangan juga pada saat ditunjuk menjadi ka PKM, malah menyebabkan penurunan kinerja puskesmasnya. Ini nyata, fakta di lapangan. Memang juga di sisi lain dokter dan dokter gigi juga ada yang ngga bisa memimpin puskesmas dengan baik. Yang demikian biasa mereka pada saat memilih langsung fungsional.

      Nah jadi menjawab pertanyaan mas Afif :
      1. Tenaga SKM termasuk dalam tenaga kesehatan. Masalahnya post ini spesifik puskesmas kami dan rata-rata puskesmas di Probolinggo. Jadi ya selama kami belum mendapat tenaga SKM saya belum bisa menuliskan tenaga itu masuk dalam yang bisa dikomentari.
      2. Sk Menkes 128/2004 sudah saya jelaskan diatas. Bahkan saya dulu ikutan dalam diskusi pembuatannya.
      3. Promosi Kesehatan (ngga pake Masyarakat) sekarang yang pegang perawat. Dia mampu? ya, sangat mampu malah. Ilmu lapangan sangat berbeda dengan ilmu kuliahan.
      4. Programming (Perencanaan). Kami melakukan perencanaan dengan team work. Biarpun ada SKM datang ke PKM ini saya tidak akan mengubah pola itu. Itu sudah sangat baik dan ngga perlu diubah dalam waktu dekat.
      5. Yang manage siapa? Yang diangkat jadi ka Puskesmas = saya! hehehe bukan maksud nyombong. Ini malah tahu diri karena ditugaskan sebagai ka puskesmas oleh SK Bupati ke sini ya tugas utama saya adalah managing.
      6. Rangkap Jabatan. Wah .. kalo kami ngga ada yang rangkap, berarti dengan ka puskesmas saya perlu 8 orang SKM, 2 org dokter gigi, 2 org dokter dan 18 orang perawat lagi. Sayangnya keadaan disini lebih nyata daripada yang tertulis di buku pelajaran. :D

      Demikian mas Afif. Mohon maaf bila anda tidak berkenan dengan jawaban saya. Semoga teman-teman SKM tidak hanya meributkan mau jadi kepala puskesmas saja, tapi lebih terjun ke daerah untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat.

      Salam.

  15. Glassha

    Topik yang menarik…. :-)
    Kalo menurut saya sih sebenernya antara dokter dan SKM sama-sama layak jadi ka PKM..
    Berhasil atau tidaknya bergantung dari individu masing-masing..
    Peace.. :-D

  16. ersanto

    salam kenal.yang penting jadi kapus itu sarjana kesehatan.mau dr,drg atau skm tidak penting.yang penting sk bupati.perawat d3 juga bisa.tergantung situasi daerah masing3.perawat spk juga ada yang jadi kapus.

  17. sjahrir hannanu

    Jadi Kapus atau Ka apapun mestinya dilihat dari kemampuan Interpreneurshipnya. Tapi kebanyakan orang yang tak menguasai masalah … ditunjuk juga karena ada apa-apanya atau ada-ada saja apanya. yang penting SK ada. Masalah di Puskesmas adalah domainnya pelayanan klinik walau juga sdh masuk pelayanan masyarakat. Maka dokter masih lebih cocok untuk itu.
    Kayaknya mula kesalahan berawal lebih berat pada yang menunjuk,… yang ditunjuk adalah orang yang dinilai kepemimpinannya.

    • yanti-Yuli

      Owh ….. Masalah Ka.Puskesmas (dokter/SKM) kiranya sama2 Bisa ,tetapi harus dilihat lagi apabila Ka.seorang dokter maka pelayanan kepada kemasyarakat tidak maksimal (Full) sesuai TUPOKSI dokter ,sebab KAPUS jg memiliki Tugas pokok sebagai seorang kapus…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s