IBGB2015-kecilPemaparan berikut diambilkan dari Diskusi Tatalaksana Balita Gizi Buruk Bagi Petugas Puskemas Propinsi Jawa Timur di Sidoarjo 13 – 14 November 2008.

Perlu dimaklumi bahwa fakta di lapangan menyatakan anak yang kemudian menderita gizi buruk sebenarnya kebanyakan dilahirkan dengan berat badan normal. Tidak sama dengan perkiraan sebagian besar orang bahwa balita gizi buruk kebanyakan dilahirkan dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Seorang anak yang gizi buruk juga pada umumnya bukan pengunjung tetap posyandu. Ketidakhadiran di Posyandu karena adanya Hambatan Sosial. Misalnya perasaan risih ke posyandu, kedua orangtua bekerja dan beberapa masalah serupa itu.

Di sebagian besar masalah gizi buruk, penderita hanya akan “muncul” di pelayanan kesehatan pada saat menderita ISPA (batuk pilek) atau Diare. Dan untuk menemukan balita yang tidak dibawa ke Posyandu sangat memerlukan kunjungan rumah.

Langkah Menurunkan Kejadian Gizi Buruk

Sebagaimana dalam penanggulangan berbagai masalah-masalah kesehatan maka langkah-langkah yang dilakukan dalam menurunkan kejadian gizi buruk juga terdiri dari :

  • Mencegah kejadian kasus gizi buruk
  • Menemukan semua kasus gizi buruk
  • Memulihkan semua kasus gizi buruk

Mencegah Kejadian Kasus Gizi Buruk

indonesia_health_gathering Selama ini pemantauan pertumbuhan terhadap balita dilakukan di posyandu. Karenanya diperlukan upaya untuk meningkatkan kunjungan ke posyandu. Diperlukan berbagai cara untuk menghidupkan kembali kegiatan posyandu. Terutama daerah perkotaan, sehingga masyarakat kelas menengah atas mau berkunjung ke posyandu (modern).

KMS (Kartu Menuju Sehat) adalah alat pantau pertumbuhan yang sudah cukup baik, dari sini  diperlukan kesamaan pemahaman pola tumbuh balita. Sebagaimana diketahui, dengan menggunakan KMS, kita bisa membedakan 5 pola tumbuh yaitu N1 dan N2 yang diharapkan, T1, T2 dan T3 yang berupa gangguan. Kelak saya akan cerita tentang ini, sementara kita bicarakan alatnya dulu. Kemudian setelah mengenali T, bisa diberikan tindak lanjut terhadap penyimpangan dini pertumbuhan (T) dengan pengobatan dan pemberian makanan dan minuman sehat.

Menemukan Semua Kasus Gizi Buruk

Diperlukan usaha bersama antara pemda dan masyarakat (itu kita, lho!) untuk menemukan semua kasus gizi buruk. Yang terpenting adalah dengan menggunakan kriteria yang sama apa yang disebut gizi buruk. Dan sarana yang digunakan adalah semua yang bisa digunakan (semua perkumpulan, pengajian, arisan, pelayanan kesehatan, posyandu & kunjungan rumah). Inilah yang sedang kita lakukan sekarang melakukan penyamaan kriteria tentang apa itu gizi buruk.

Memulihkan Semua Kasus Gizi Buruk

Disini peran Pelayanan Kesehatan (RS, Puskesmas) jadi lebih nyata. Di beberapa daerah yang sudah mencoba petunjuk teknis yang diterbitkan Depkes tahun 2007 lalu biasanya terdapat yang dinamakan : TFC (Therapeutic Feeding Center) dan CTC (Community-based Therapeutic Center). TFC bertugas menangani secara medis-klinis menangani kasus gizi buruk dengan 10 langkah penanganan Kasus Gizi Buruk di Unit Pelayanan Kesehatan. Sedangkan di CTC dilakukan penyembuhan kasus Gizi Kurang, biasanya setelah pulang dari TFC.

Di CTC inilah yang diperlukan pendekatan berbagai unsur masyarakat untuk bersama menanggulangi secara tuntas kasus gizi buruk ini. Beberapa yang menjadi kegiatan di CTC antara lain adalah :

  • Pemberian makanan tambahan untuk kasus gizi kurang
  • Penyuluhan membuat makanan lokal yang padat gizi
  • Pemberian suplemen seperti vitamin A, Fe dll
  • Dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bisa digunakan untuk sharing informasi bagaimana memberikan penanganan yang terbaik, baik nutrisi maupun stimulasi tumbuh kembang anak.

Untitled

Mengapa terjadi gangguan pertumbuhan balita ?

Pada usia kurang dari 6 bulan sebagian besar bayi (> 80% ) masih disusui ibu. Dengan menetek, anak mendapatkan gizi yang seimbang dan zat kebal dari ASI karena itu anak menjadi jarang sakit, pertumbuhan anak masih baik.

Pada usia 6 – 12 bulan sebagian bayi sudah mulai disapih, ibu bekerja sudah mulai masuk kantor, perlindungan zat kebal dari ASI mulai berkurang. Sementara itu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) memenuhi syarat-syarat 3J-1H (Jenis, Jumlah, Jadwal dan Higienis). Sehingga anak akhirnya jadi lebih mudah jatuh sakit. Pertumbuhan mulai terganggu.

Seterusnya diatas usia 12 bulan anak sudah tidak diberikan ASI sehingga perlindungan zat kebal dari ASI sudah tidak ada, apalagi bila dibarengi dengan MP-ASI tidak memenuhi syarat 3J-1H. Dan anak sekarang lebih mudah terpapar dengan lingkungan sekitar, bila lingkungannya kurang sehat maka anak akan lebih sering sakit dan pertumbuhan anak akan lebih jauh terganggu.

GIZI BURUK

Kriteria yang dinamakan Gizi Buruk bila ditemukan anak sangat kurus yang secara antropometri (pengukuran BB dan TB anak) nilai z-Scorenya berada pada –3 SD (WHO 1998). Susah ya .. biasanya memang ini tugas yang kami lakukan di Puskesmas. Namun demikian saya sudah mencoba menyusun sebuah perhitungan dengan menggunakan Ms Excel yang bisa digunakan untuk menghitung angka tersebut dengan memasukkan Umur, Jenis Kelamin, Berat Badan dan  Tinggi Badan. [Silahkan Ikuti Link].

Selanjutnya nanti kita akan juga bicarakan Gizi Buruk dengan sedikit lebih teknis medis. Semoga bisa menambah pengetahuan kita semua.

Bagaimana di lingkungan anda ?