Ini sangat ironis, karena bahasa di masyarakat miskin sekalipun, seolah-olah kebutuhan gizi harus dipenuhi dengan membeli (terutama susu dan makanan suplemen lainnya)

Berikut ini tulisan Noviansyah Manap, teman saya yg selalu juara sekolah sejak masih di SMP.

Aku coba lihat gizi buruk dari akibat kurangnya pengetahuan keluarga (mampu atau tidak mampu) tentang bagaimana mereka memenuhi kebutuhan gizi. Dari pengalaman jalan2 ke pelosok dan pusat2 kemiskinan kota, sebenarnya keluarga “miskin” dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk ibu dan anak (bapak ga usah dipikirkan..hehe). Bayangkan kalau kita bertanya kepada seorang ibu; tentang apa sebab anaknya kurang gizi? Jawaban yang sering didapat adalah ketidakmampuan membeli SUSU (FOMULA). Ini sangat ironis, karena bahasa di masyarakat miskin sekalipun seolah-olah kebutuhan gizi harus dipenuhi dengan membeli (terutama susu dan makanan suplemen lainnya). Padahal kalau kita amati ternyata sumberdaya yang ada di sekitar mereka sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Sayangnya kebiasaan menanam dan memelihara sudah hilang dari masyarakat. Bayangkan bahkan di masyarakat petani sekalipun ketika dilakukan analisa ternyata mereka lebih banyak membeli di pasar ketimbang mengambil dari hasil budidayanya sendiri.

Gizi buruk pada anak sangat erat hubungannya dengan pengetahuan Ibu dan Bapaknya, terutama seorang ibu yang sangat dekat dengan anaknya, walaupun tanggung jawab itu tidak dapat diserahkan kepada ibu saja.
Gencarnya iklan tentang susu formula saat ini sudah sangat luarbiasa dan KETERLALUAN. Seolah-olah anak yang tidak minum susu akan BODOH, TIDAK SEHAT, TIDAK NORMAL, KALAH PINTAR disbanding anak yang minum susu. Demikian juga Ibunya, seolah-olah janin yang dikandung lahir cacat, tidak normal, IQ rendah, dll. Suatu pencitraan industri yang menurut saya paling membodohkan. Ini jelas serangan dari korporasi yang hanya mementingkan penjualan produk dan keuntungan korporasi.

UNICEF membuat gerakan MENYUSUI BAYI selama 2 tahun, yang terjadi adalah industri susu dari Amrik melobi pemerintahnya untuk membatalkan bantuan kepada UNICEF. Karena jika ibu menyusui anak, tentu saja dengan pemenuhan gizi yang baik (mengkonsumsi Ikan dari kolam sendiri, kacang2an dari kebun sendiri, telur ayam dari peliharaan sendiri) tentu gizi anak akan lebih tercukupi. Kemudian keluarga menganeka-ragamkan asupannya. Gerakkan menanam dan memelihara perlu dilakukan lagi. Dulu kita dengar tentang kebun keluarga, tanaman obat, dll. Penelitian sekarang yang dilakukan oleh teman2 gerakan pertanian berkelanjutan bahkan kita bisa menannam ditempat yang sempit dan terbatas. Padi saja sekarang bisa ditanam di polibag.

Teman-teman dokter dan ahli gizi mungkin perlu mengkampanyekan model pangan atau asupan sehat, mudah, dan murah. Perbedaan pola makan jaman kita dengan generasi saat ini saja sangat jauh. Atau kita cari positive deviance di masyarakat yang miskin dimana ada keluarga sehat diantara banyaknya keluarga bergizi buruk. Bagaimana strategi mereka sehingga terjadi deviasi positif diantara mereka yang bergizi buruk.

Menurut saya memang secara tidak sadar, terjadi pembodohan secara massif dan tidak disadari, sehingga masyarakat tidak mampu melihat potensi mereka untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Kemudian pemecahan masalah ini akhirnya diserahkan dan dituntut kepada PEMERINTAH. Lha, kalau pemerintahnya sendiri sekarang kacau dan bingung khan harusnya inisiatif-inisiatif mengatasi gizi buruk ini harus kita arahkan kepada BAGAIMANA masyarakat dapat mengatasi sendiri masalah tersebut sementara bantuan luar ditujukan untuk mempercepat proses tersebut.

Boyolali 03/04/09

Well, benarkah pengetahuan atau lingkaran setan kemiskinan-nya Razaq yg lebih berpengaruh ?

post ini dibuat dengan windows live writer ® yg dapat anda temukan di blog pom | hkn | idi | pkm