Memang sulit kalo yang namanya gizi buruk karena sebab-sebab sosial di masyarakat, maka pasti tidak akan sama dengan persamaan yang umum terjadi : Keluarga Miskin –> Asupan Kurang –> Gizi Buruk. Kemaren ini contohnya saya menerima pasien An. J, perempuan, 13 bulan, BB = 6 kg, TB = 67,8 cm. Kalau dimasukkan ke dalam perhitungan BB/U-nya sudah masuk dalam Gizi Buruk (sedangkan untuk BB/TB masuk dalam kriteria Kurus. Anak memang kurus kering, mulai dari truncus (=badan), ekstremitas (tangan dan kaki) dan menyisakan lemak di sekitar mata dan pipi saja yang masih terlihat agak berisi. Anak ini sudah tergolong marasmus.

jazilatul

Nah keluarga dari an. J ini adalah keluarga yang tidak mendapatkan kartu Jamkesmas. Berarti pada saat dinilai oleh tim desa keluarga ini tergolong dalam keluarga mampu. Memang sejak saat masuk perawatan pun mereka tidak menuntut untuk ‘mengurus kartu’ demikian istilah masyarakat sini bila tergolong dalam gakin (keluarga miskin).

Sebagai puskesmas yang sudah mengklaim mampu menjadi TFC (Therapeutic Feeding Center) tentu saja melihat kasus ini dan melihat kondisi infeksi yg diderita tergolong ringan, kami menyarankan rawat inap di puskesmas saja. Di TFC kami melaksanakan standar penanganan gizi buruk terbitan Depkes 2007. Kemudian bila ternyata pasien sudah masuk dalam gizi kurang kami akan melaksanakan Community-based Feeding Care. Konsep ini digagas tahun lalu 2007 dengan menambahkan Pos Pelayanan Gizi dan Public Health Nursing pada konsep yang telah dibuat oleh depkes. Dengan demikian kami merasa menjaga dengan baik anak yang gizi buruk. Apalagi dana APBN (baca dana JPKMM) bisa dipergunakan untuk menolong gizi buruk meskipun tidak berasal dari keluarga miskin.

Kembali pada cerita kasus ini .. hari ini pada saat visite asupan susu F-75 sebagai standar pemberian anak gizi buruk yang dirawat pertama kali ternyata ditolak oleh anak. Kata ibunya, anak meminumnya tapi kemudian disembur-semburkan. Biasanya bila asupan sulit dimasukkan melalui mulut maka kami mengambil langkah tindakan sonde, dan memasukkan susu langsung ke lambung anak melalui selang sonde tersebut. Berhubung keluarga ini adalah keluarga mampu, yang berarti tidak ditanggung jamkesmas, maka tentu saja biaya perawatannya akan menjadi lebih tinggi.

 

Saya mencoba menghubungi dinas kesehatan dan direktur RSUD untuk menanyakan apakah masih ada dana yang digunakan untuk memberikan pertolongan pada masyarakat kelas tanggung seperti diatas. Karena bila ada maka pasien bisa dirawat di Rumah Sakit.

Ternyata setelah mengetahui anaknya akan dibawa ke rumah sakit, si ibu dan keluarganya memutuskan membawa anak langsung pulang ke rumah. Dengan berbagai macam motivasi sudah diberikan tapi keluarga tetap menolak. Maka akhirnya dengan sangat terpaksa Surat Penolakan rujukan pun kami mintakan keluarga untuk menandatangani.

Sedikit tentang Program Peningkatan Gizi Masyarakat

Tidak sedikit kasus seperti ini terjadi, meskipun tentu saja ini tidak didiamkan saja namun kebanyakan kasus seperti ini berbuah kegagalan pengelolaan yang komprehensif kasus gizi buruk. Selain di puskesmas rawat inap, kasus gizi buruk selalu dicoba tangani dengan melakukan rawat jalan terhadap pasien-pasien yang memang tidak mau dilakukan rujukan. Alasan jauh dari rumah, tidak ada uang dan berbagai alasan klise lainnya sudah sering kami terima. Banyak kasus berhasil bila penanganan cukup sampai di Puskesmas saja, dalam arti anak tidak mengalami komplikasi yang cukup berat. Tapi bila sudah dengan penyakit penyerta yang berat biasanya terpaksa di rawat di RS dan berujung pulang paksa karena kehabisan uang bagi penunggu pasien.

Di beberapa program penanggulangan gizi buruk terdahulu dengan sumber dana APBN pernah ada perhatian kepada penunggu (orangtua, biasanya) dengan memberikan biaya makan pada saat perawatan.

Selain memperhatikan masalah teknis medis, pemberdayaan masyarakat dan program terkait lainnya juga seharusnya menjadi perhatian. Pemberdayaan masyarakat melalui desa siaga sudah mungkin bisa memberikan umpan balik positif dengan makin banyaknya penemuan gizi buruk. Hal ini bukan berarti angka kesakitan meningkat. Akan tetapi dulu ada tapi tidak terdeteksi. Tidak sedikit yang diantarkan oleh orang tuanya, kader, atau tokoh masyarakat ke puskesmas untuk diobati gizi buruknya.

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium

Dari sekian banyak hal salah satu yang cukup permanen dari tahun ke tahun menduduki peringkat 5 besar masalah adalah tidak digunakannya garam beriodium di masyarakat yang berujung beberapa masalah kesehatan (masih prediksi) misalnya : kejadian abortus yg selalu ada, gondok endemik itu sendiri, berat bayi lahir rendah (BBLR) dll. Hal ini tentu saja cukup menggemaskan mengingat betapa mudahnya sekarang ini mendapatkan garam yang sudah difortifikasi iodium. Namun demikian beberapa perusahaan garam yang masih memproduksi garam untuk hewan ternyata masih kelolosan mengeluarkan garam tersebut untuk disantap manusia. Kadang-kadang dari pabrik garam ada yang membawa dengan becak tumpukan garam yang belum difortifikasi ke rumah tangga dan dibagikan di tetangga-tetangganya.

Sehubungan dengan BBLR merupakan faktor resiko terjadinya Gizi buruk pada balita maka tentunya penegakan perda tentang produksi garam ini sudah harus benar-benar ditegakkan.

Positive Deviance

Dalam masyarakat miskin, ada saja yang balitanya tumbuh dengan gizi baik. Ini tentu saja suatu keuntungan tersendiri. Keluarga miskin dengan balita gizi baik inilah yang disebut sebagai simpangan positif, positif deviance. Keluarga miskin dengan pola makan dari produk lokal ini tentu patut ditiru, karenanya program ini pun dikemas dengan bentuk suatu Pemberian Makanan Tambahan kepada balita dari keluarga miskin. Ibu dan balita diundang dalam suatu pertemuan rutin kemudian disana sang ibu dari balita gizi baik tadi diminta memberikan testimoni dan demo memasak bersama makanan lokal tadi.

Biasanya meskipun secara kebetulan, makanan yang dimasak memenuhi menu seimbang yang menyebabkan keluarga tersebut tidak mengalami kekurangan gizi. Misalkan saja meski tanpa sengaja ibu memasak sayuran, buah dan makanan yg mengandung vitamin larut dalam lemak (A, D, E, K) dengan masakan yang mengandung santan. Nah dengan demikian bisa terjadi asupan vitamin tersebut. Demikian seterusnya.

Sebagai penutup postingan ini .. untuk menanggulangi gizi buruk, perlu sekali adanya berbagai program terpadu dalam menangani secara teknis balita gizi buruk tadi, melakukan pencegahan dan rehabilitasi kembali gizi buruk.

ASI, air susu ibu, keuntungan, kelebihan

 


post ini dibuat dengan windows live writer ® yg dapat anda temukan di blog pom | hkn | idi